Lampung Selatan (Media Kolaborasi): Sistem pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda menghadapi kendala setelah delapan unit aki berkapasitas sekitar 75 ampere dilaporkan hilang dari sejumlah titik pengamatan.
Hilangnya sumber daya listrik tersebut diduga akibat pencurian dan berpotensi mengganggu kelancaran pengiriman data aktivitas gunung api secara real-time.
Peristiwa itu terungkap saat tim Pos Pantau Gunung Anak Krakatau melakukan peninjauan, pemeriksaan, dan pemeliharaan rutin terhadap sejumlah perangkat pemantauan di kawasan gunung api tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat hendak melakukan perbaikan dan perawatan peralatan, petugas mendapati aki yang berfungsi sebagai sumber daya utama perangkat pemantauan sudah tidak berada di tempatnya.
Kepala Pos Pantau GAK Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan kehilangan delapan unit aki yang tersebar di beberapa titik lokasi pengamatan. Selain kehilangan tersebut, tim di lapangan juga tengah menangani sejumlah gangguan teknis pada perangkat pendukung, termasuk jaringan kamera CCTV pemantau.
Hilangnya aki tersebut menjadi perhatian karena perangkat itu memiliki peran penting dalam menunjang operasional peralatan pemantauan aktivitas vulkanik. Gangguan pasokan daya berpotensi memengaruhi kelancaran transmisi data dari sejumlah titik pengamatan.
Meski demikian, Suwarno memastikan sistem pemantauan Gunung Anak Krakatau secara keseluruhan masih beroperasi.
“Pemantauan tetap dilakukan dengan mengandalkan Pos Pantau Kalianda, Lampung Selatan, dan Pos Pasauran, Banten,” kata dia, Senin (28/9/2026).
Pihak Pos Pantau GAK juga telah menyampaikan laporan resmi mengenai kehilangan tersebut kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung untuk mendapatkan arahan lebih lanjut, termasuk terkait kemungkinan pelaporan kepada pihak kepolisian.
Sementara itu, status aktivitas Gunung Anak Krakatau telah diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) sejak 21 September 2026.
Meski status aktivitas vulkanik mengalami penurunan, masyarakat dan wisatawan tetap diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat kawah Gunung Anak Krakatau.
Kehilangan perangkat penunjang pemantauan ini menjadi perhatian tersendiri mengingat pentingnya ketersediaan data aktivitas vulkanik dalam mendukung upaya mitigasi dan penyampaian informasi kebencanaan kepada masyarakat.
PVMBG Badan Geologi membenarkan 8 unit aki pemantau GAK hilang dicuri
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi membenarkan delapan unit aki di Stasiun LV93 pemantau Gunung Anak Krakatau hilang dicuri setelah erupsi pada pertengahan September 2026.
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati mengatakan gangguan pada Stasiun LV93 pertama kali terdeteksi pada 16 September 2026 pukul 19.36 WIB. Saat itu, sistem pemantauan digital mencatat adanya kerusakan transmisi data setelah stasiun diterjang lontaran material vulkanik dan abu erupsi.
Tim teknis PVMBG kemudian mendatangi kawasan Gunung Anak Krakatau pada 27 September 2026 untuk melakukan perbaikan. Saat pemeriksaan berlangsung, petugas mendapati delapan aki yang menjadi sumber daya peralatan telah hilang dari boks penyimpanan. PVMBG memperkirakan pencurian tersebut terjadi dalam rentang waktu antara 16 September hingga 27 September 2026.
“Pada 27 September 2026 diketahui bahwa delapan accu di stasiun LV93 telah hilang. Tim telah melakukan penggantian Aki dan menghidupkan kembali Seismometer dan CCTV di stasiun LV93 yang terdampak erupsi sehingga saat ini sudah beroperasi normal,” ujar Rita, Senin (28/9/2026), dikutip dari Antara.(*)
Editor : Arie















