Lestarikan Budaya Lampung, Gebyar Gelar Karya ke-36 Wadahi Puluhan Penari Muda

- Penulis

Sabtu, 26 September 2026 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandar Lampung (Media Kolaborasi) : Gelaran Gebyar Gelar Karya ke-36 sukses menyedot perhatian masyarakat melalui kompetisi tari kreasi daerah Lampung yang berlangsung meriah di Pasar Kreatif dan Seni (PAKSI), Kompleks PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Sabtu (26/09/2026).

Sebanyak 11 kelompok tari kreasi bertanding menampilkan ragam tarian khas Lampung, salah satunya Tari Gaharu Caka Buwa yang menggambarkan tradisi Festival 1 Syawal di Lampung Barat. Ajang budaya berskala daerah ini disajikan unik dengan konsep outdoor di area taman untuk menciptakan suasana yang menyatu dengan alam.

Kompetisi tari kreasi ini terbagi ke dalam beberapa kategori usia, salah satunya Kategori B untuk jenjang usia 16 tahun ke atas. Para peserta menampilkan penguasaan koreografi yang matang di hadapan dewan juri, memperlihatkan kekayaan gerak tradisional yang dipadukan dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan kearifan lokal daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya seni tari, rangkaian Gebyar Gelar Karya ini juga disemarakkan oleh ajang lomba mewarnai, beauty class, hingga pertunjukan khusus dari komunitas Sahabat Difabel Lampung.

Puncak gelaran ini menjadi bagian rutin dari komitmen pelestarian seni daerah yang dilaksanakan secara berkala di kawasan PAKSI. Melalui kompetisi ini, seluruh peserta yang berpotensi diberikan hadiah pembinaan serta peluang untuk dilibatkan dalam agenda pentas pariwisata Provinsi Lampung mendatang.

Kemeriahan aksi para penari muda di atas panggung ini tak lepas dari peran serta pemerintah daerah yang terus berupaya menyediakan ruang gerak bagi para pelaku seni.

 

PAKSI Disiapkan Jadi Hub Kreativitas Seni dan Ekonomi Kreatif

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan Pasar Kreatif dan Seni (PAKSI) PKOR Way Halim sebagai hub atau pusat kegiatan seni dan budaya daerah.

Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Disparekraf Lampung, Duhana Sari, menjelaskan bahwa pemerintah daerah secara konsisten menggelar kegiatan Gelar Karya setiap bulan sebagai bentuk apresiasi bagi para seniman dan generasi muda.

“Pasar Kreatif dan Seni (PAKSI) ini adalah hub, tempat untuk kita berkreativitas. Harapannya ke depan adalah di PAKSI ini menjadi tempat untuk kita berkreativitas tentang seni dan budaya Provinsi Lampung,” ujar Duhana Sari saat diwawancarai di lokasi acara.

Ia menambahkan bahwa PAKSI disiapkan bukan sekadar tempat berkumpul biasa, melainkan pusat edukasi melalui keberadaan berbagai sanggar, mulai dari sanggar tari, lukis, kerajinan tangan (handicraft), hingga fashion.

Program yang menyasar kalangan pelajar dan mahasiswa dari seluruh kabupaten/kota di Lampung ini diharapkan terus memicu lahirnya ruang ekspresi yang inklusif. Ke depan, Disparekraf Lampung berjanji akan terus mendampingi para pelaku seni potensial agar dapat berkontribusi aktif dalam berbagai event pariwisata daerah.

Upaya pemerintah dalam memfasilitasi ruang kreativitas ini pun mendapatkan respons serta catatan evaluasi mendalam dari para penilai teknis di panggung dan peserta yang bertanding.

 

Evaluasi Juri dan Cerita Perjuangan Peserta di Atas Panggung

Pelaksanaan Gebyar Gelar Karya ke-36 memberikan gambaran optimis terhadap proses regenerasi penari tradisional di Provinsi Lampung, meski tetap menyisakan sejumlah catatan evaluasi teknis.

Juri Lomba Tari Kreasi, Zahra Amalia, mengungkapkan bahwa proses penilaian utama berpatokan pada tiga aspek dasar seni tari, yakni Wiraga, Wirama, dan Wirasa. Ia mengapresiasi potensi anak-anak muda, namun menekankan pentingnya menjaga kekompakan tim di atas panggung.

“Aspek yang membedakan itu kelihatan dari gerakan dan power mereka. Yang baru turun [pemula] pasti kelihatan gerakannya belum ada power, yang sudah sering tampil pasti power-nya kelihatan,” ungkap Zahra Amalia.

Ia juga menyoroti kesalahan yang masih sering terjadi, seperti kurangnya fokus dan ego individu. “Ada yang egois juga saya lihat tadi dari peserta, padahal kan lomba ini tentang kekompakan,” tambahnya.

Di sisi lain, dinamika persiapan serta antusiasme para peserta memberikan warna tersendiri dalam ajang ini. Peserta asal MDM Gajah Mada, Fida Fawaza Adrena Putri, mengungkapkan bahwa ia tetap konsisten mendalami seni tari secara berkala tanpa bergantung pada ada atau tidaknya jadwal kompetisi.

“Deg-degan pasti ada sebelum tampil di panggung, tetapi setelah selesai tampil rasanya lega. Pembelajaran tari ini tetap saya jalani rutin setiap minggu,” tutur Fida.

Sementara itu, pengalaman berkesan juga dirasakan oleh I Made Deva Saputra, penari Kategori B dari kontingen Pramuka Seputih Banyak yang tetap tampil percaya diri di atas panggung meskipun hanya berbekal persiapan latihan intensif selama dua minggu.

Facebook Comments Box

Penulis : Syamsul Fajri

Berita Terkait

Lampung Ekspor Perdana Tapioka Rp26 Miliar ke China, Singkong Tubaba Ikut Pasok
Lulus Cumlaude, Firsada Sabet Disertasi Terbaik di UIN Raden Intan Lampung
LAKH PWI Lampung Beri Bantuan Hukum Wildan, Wartawan yang Diduga Diancam Oknum Pejabat

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 20:07 WIB

Lestarikan Budaya Lampung, Gebyar Gelar Karya ke-36 Wadahi Puluhan Penari Muda

Rabu, 6 Mei 2026 - 02:12 WIB

Lampung Ekspor Perdana Tapioka Rp26 Miliar ke China, Singkong Tubaba Ikut Pasok

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB

Lulus Cumlaude, Firsada Sabet Disertasi Terbaik di UIN Raden Intan Lampung

Kamis, 30 April 2026 - 08:00 WIB

LAKH PWI Lampung Beri Bantuan Hukum Wildan, Wartawan yang Diduga Diancam Oknum Pejabat

Berita Terbaru

Oplus_131072

Internasional

Prabowo Reshuffle Kabinet 2026, Ini Daftar Menteri dan Pejabat Baru

Kamis, 1 Okt 2026 - 16:47 WIB