Lampung Selatan (Media Kolaborasi): Hamparan rumput di Lapangan Gaza, Al-Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, tampak mulai mengering. Dedaunan berubah menguning, sementara tanda-tanda kemarau semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, ratusan santri Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung menengadahkan tangan, memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui Shalat Istisqa, Minggu (13/9/2026) pagi.
Sekitar 600 santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), bersama para asatidz dan pengurus pondok, mengikuti pelaksanaan Shalat Istisqa yang dimulai pukul 07.00 WIB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana khusyuk terasa di tengah lapangan. Di bawah kondisi alam yang mulai kering, para santri bersama para pembimbingnya memohon agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan.
Pelaksanaan Shalat Istisqa tersebut merupakan tindak lanjut atas surat edaran Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang disampaikan kepada Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Lampung untuk melaksanakan doa dan Shalat Istisqa di tengah kondisi kemarau.
Muhammad Iqbal, M.Pd, Mudir Shuffah Al-Fatah Lampung yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam khutbahnya menyampaikan bahwa kondisi alam saat ini telah menunjukkan tanda-tanda yang menjadi sebab dilaksanakannya Shalat Istisqa.
“Dedaunan sudah mulai menguning, makanan untuk hewan mulai sulit dicari, serta berbagai dampak kekeringan lainnya mulai kita rasakan, dan sulitnya mendapatkan air bersih. Maka sudah selayaknya kita kembali menundukkan diri dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Menurutnya, Shalat Istisqa tidak semata-mata menjadi ikhtiar untuk memohon turunnya hujan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang bagi setiap Muslim untuk melakukan introspeksi atau muhasabah, memperbanyak istighfar, serta kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pesan itu seakan menemukan maknanya di tengah lapangan yang mulai kehilangan hijaunya. Setelah khutbah selesai, para santri dan asatidz tampak khusyuk menengadahkan kedua tangan. Doa dipanjatkan bersama, berharap agar langit segera menurunkan rahmat-Nya.
“Semoga dengan kita menundukkan diri dan berharap kepada Allah SWT, bukan hanya hujan yang Allah turunkan, tetapi juga rahmat, keberkahan, dan ampunan-Nya untuk kita semua,” tuturnya.
Bagi keluarga besar Al-Fatah Lampung, Shalat Istisqa menjadi ikhtiar spiritual di tengah kondisi kemarau tengah dirasakan. Doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk membasahi tanah yang mengering, tetapi juga sebagai harapan agar hujan yang turun nantinya membawa manfaat bagi kehidupan.
Keluarga besar Al-Fatah Lampung berharap dan berdo’a, Allah SWT segera menurunkan hujan yang bermanfaat, menghidupkan kembali bumi yang mengering, serta melimpahkan rahmat dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.(*)
Editor : Arie















