Lampung Selatan (Media Kolaborasi): Kepedulian terhadap Palestina tidak cukup berhenti pada rasa simpati. Generasi muda perlu memahami persoalan Al-Aqsha, memperkuat kapasitas diri, dan menemukan bentuk kontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Seminar dan Talkshow bertema “Menemukan Peran dalam Proses Terbebasnya Masjidil Aqsha dari Cengkeraman Zionis” yang digelar Aqsa Working Group (AWG) Wilayah Lampung bersama DKM Masjid An-Nubuwwah, Dusun Al-Muhajirun, Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan pembahasan mengenai sejarah Palestina, kondisi masyarakat Gaza, peran generasi muda, hingga pentingnya mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum tersebut, peserta diajak melihat bahwa persoalan Palestina bukan hanya isu yang jauh secara geografis, tetapi juga menjadi persoalan yang membutuhkan pengetahuan, kepedulian dan keterlibatan dari berbagai pihak.
Salah satu pembahasan yang muncul adalah bagaimana setiap individu dapat mengambil peran berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Peran tersebut tidak selalu harus berbentuk tindakan besar, tetapi dapat dimulai melalui bidang yang ditekuni, seperti pendidikan, kesehatan, media, tulisan, organisasi maupun kegiatan kemanusiaan.
Amir Syubban (Pemuda) Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung, Fadli Iqamul Haq, S.E., menyampaikan bahwa jarak antara Lampung dan Palestina tidak seharusnya menjadi penghalang bagi generasi muda untuk memiliki kepedulian terhadap Al-Aqsha.
Menurutnya, generasi muda perlu memiliki pemahaman yang cukup mengenai sejarah Palestina, kondisi masyarakatnya, serta perkembangan isu yang terjadi di tingkat internasional.
Ia menilai kepedulian yang dibangun atas dasar ilmu akan membuat generasi muda mampu mengambil sikap dan kontribusi secara lebih tepat.
Selain persoalan konflik, pembahasan juga menyoroti kondisi pendidikan dan kehidupan masyarakat Palestina yang menghadapi berbagai tantangan akibat situasi yang berlangsung panjang.
Pembina AWG Wilayah Lampung, Ustadz Amin Nuruni, S.Sos., mendorong generasi muda Syubban dan Fatayat untuk terus mengikuti perkembangan Palestina dan Al-Aqsha.
Menurutnya, informasi yang diperbarui secara berkala diperlukan agar kepedulian tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan yang memiliki arah.
Ia juga mendorong adanya ruang bersama yang secara rutin membahas persoalan Palestina, termasuk aspek pendidikan, kemanusiaan dan kondisi masyarakatnya.
Sementara itu, keynote speaker K.H. Dr. (Cand) Yakhsyallah Mansur, M.A., mengingatkan peserta agar penderitaan rakyat Palestina tidak membuat umat kehilangan harapan.
Menurutnya, perjuangan membutuhkan kesabaran, optimisme dan kerja bersama. Persoalan besar tidak dapat diselesaikan melalui gerakan yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi membutuhkan kebersamaan dan kekuatan berjamaah.
Dalam sesi pembahasan, Drs. Asep Fathurahman menyampaikan bahwa seseorang tidak harus memiliki kekuatan besar untuk mengambil bagian dalam perjuangan.
Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk memberikan manfaat. Hal terpenting adalah menjaga ketaatan, membangun kekuatan bersama, serta menjalankan amanah sesuai kapasitas masing-masing.
Hal tersebut juga ditegaskan moderator Ustadz Yusron Darajat, S.Pd., M.Sc., yang menyampaikan bahwa pertanyaan penting bagi generasi muda bukan hanya tentang mengapa Palestina harus diperhatikan, tetapi juga apa yang dapat dilakukan.
Menurutnya, kontribusi dapat hadir melalui berbagai bidang. Seseorang dapat mengambil peran melalui ilmu, profesi, kreativitas, jaringan sosial maupun aktivitas kemanusiaan.
Ketua Presidium Al-Aqsa Working Group (AWG), Muhammad Ansarullah, menjelaskan perjalanan panjang perjuangan Palestina serta berbagai upaya yang dilakukan untuk memperluas kepedulian terhadap isu Al-Aqsha.
Ia menyampaikan bahwa pembelaan terhadap Palestina perlu dipahami sebagai persoalan kemanusiaan yang dapat melibatkan banyak pihak.
Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya hubungan antara iman, ilmu dan amal. Keyakinan terhadap pentingnya Al-Aqsha perlu diikuti dengan pemahaman terhadap sejarah dan kondisi yang terjadi, kemudian diwujudkan melalui tindakan nyata.
Bentuk kontribusi dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari doa, edukasi, tulisan, bantuan kemanusiaan hingga berbagai aktivitas sosial lainnya.
Rifa Berliana Arifin, Lc., M.H., menyoroti pentingnya tahap implementasi setelah munculnya gagasan dan diskusi.
Menurutnya, banyak gerakan mampu menghasilkan pemikiran, tetapi tantangan terbesar adalah bagaimana gagasan tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.
Generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menghadirkan inovasi melalui kreativitas, kerja sama dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Ia juga menekankan bahwa persoalan besar tidak memiliki satu solusi tunggal. Karena itu, kolaborasi antarberbagai pihak menjadi bagian penting dalam membangun kontribusi.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama peserta yang membahas berbagai hal, mulai dari bentuk perlawanan masyarakat Gaza, peluang generasi muda mengambil peran, kerja sama antarorganisasi, hingga kontribusi individu.
Dari seluruh rangkaian pembahasan, kegiatan tersebut mengarah pada satu kesimpulan bahwa setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi.
Pembelaan terhadap Palestina tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berada di garis depan, tetapi juga oleh orang-orang yang mempersiapkan diri dengan ilmu, kemampuan dan kepedulian.
Seminar Al-Aqsha di Lampung menjadi ruang refleksi bahwa perjuangan besar membutuhkan banyak peran. Ada yang bergerak melalui pendidikan, kesehatan, media, kemanusiaan, organisasi maupun bidang lainnya. Yang dibutuhkan bukan hanya kepedulian, tetapi kesiapan untuk mengambil bagian ketika kesempatan datang.(F)















